Penentuan 1 Syawal 1432 H/2011 M | visit ingatEros.com

Penentuan 1 Syawal 1432 H/2011 M

August 15th, 2011 46 Comments

1 Syawal 1432 H/2011 M – Alhamdulillaah.. tanpa terasa kita sudah sampai separuh jalan dari ibadah puasa dibulan Ramadhan ini. Ya, hari ini Senin (15/08/2011) bertepatan dengan 15 Ramadhan 1432 H yang artinya 2 minggu lagi akan tiba hari kemenangan, kemenangan melawan hawa nafsu, kemenangan menjalankan kewajiban puasa Ramadhan. Yaitu hari raya Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal 1432 H/2011 M.

Hari raya idul fitri masih kurang 2 minggu lagi, tapi hiruk pikuk mempersiapkan lebaran sudah mulai terasa. Sebagian mereka lebih memilih disibukkan dengan mempersiapkan untuk hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H/2011 M nanti, daripada sibuk memperbanyak amalan ibadah dibulan Ramadhan yang suci ini.

Keramaian dari masjid-masjid yang biasanya shaf-shaf penuh dengan jamaah sholat fardhu dan sholat tarawih sekarang berpindah ke mall-mall. Sangat disayangkan bila melewatkan ibadah Ramadhan begitu saja bukan? belum tentu tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan.

1 Syawal 1432 H/2011 versi Muhammadiyah

Berpindah dari kesibukan mereka yang mempersiapkan lebaran Syawal 1432 H/2011 M menuju kesibukan para ulama, kyai dan pemerintah yang bertanggungjawab menentukan jatuhnya tanggal 1 Syawal 1432 H/2011 M.

Alhamdulillah, tahun ini tidak ada perbedaan dalam penentuan 1 Ramadhan 1432 H yang lalu. Baik, Muhammadiyah, NU, pemerintah, ormas-ormas lainnya termasuk non-ormas yaitu islam bermanhaj salaf, Salafy sepakat 1 Ramadhan jatuh pada hari Senin, 1 Agustus 2011.

Namun sepertinya terjasi kemungkinan akan terjadinya perbedaan pada penentuan jatuhnya tanggal 1 Syawal 1432 H/2011 M. Muhammadiyah jauh-jauh hari sudah mengeluarkan edaran bahwa 1 Syawal 1432 H/2011 M jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011 berdasarkan surat edaran dari PP Muhammadiyah.

1 Syawal 1432 H/2011 versi NU, ormas dan Salafy

Pihak NU sendiri masih menunggu hasil dari melihat hilal yang akan dilakukan pada titik-titik baru untuk mengeluarkan fatwa 1 Syawal 1432 H/2011 M. Maka dari itu NU belum mengeluarkan fatwa kapan jatuhnya hari raya idul fitri 1 Syawal 1432 H/2011 M.

Muslim non ormas Islam bermanhaj Salaf (Salafy) berdasarkan hadist-hadist sahih dari Rasululloh -sallahu alaihi wassalam- sepakat menentukan awal bulan baik Ramadhan, Syawal dan sebagainya berdasarkan pantauan hilal atau rukyat. Karena penentuan awal bulan berdasarkan hisab tidak ada tuntunan dan hadist dari Rasululloh -sallahu alaihi wassalam- wallahua’lam.

Penentuan 1 Syawal 1432 H/2011 M bagi ormas lain silahkan menghubungi PP masing-masing. Karena setiap ormas berbeda pandangan, ikut lebaran berdasarkan ilmu hisab seperti Muhammadiyah atau menunggu hasil pantauan hilal.

Alhamdulillah, alangkah indahnya bila 1 Syawal 1432 H/2011 M jatuh pada hari dan tanggal yang sama, sehingga bisa lebaran bersama. Kalaupun ada perbedaan seperti tahun-tahun lalu semoga tidak ada perpecahan umat islam dan tetap saling menghormati satu sama lain. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pemerintah tidak melarang perayaan Idul Fitri yang berbeda ini. Selamat menanti hadirnya 1 Syawal 1432 H/2011 M .

46 Responses to “Penentuan 1 Syawal 1432 H/2011 M”

  1. arqu3fiq says:

    Wah…Idul Fitri jek adoh wis di bahas rek. BTW aku jek iso ketemu Ramadhan terus bro, coz saudaraku namanya Ramadhan jadi tiap hari ketemu Ramadhan. Hehehehe….

    Selamat menjalankan ibadah puasa.

    [Reply]

  2. Aden Kejawen says:

    Baik yang menggunakan Hisab maupun Rukyah semua berdasarkan pada dalil yang kuat. Dan untuk masalah Falakiyah sendiri sudah banyak dibahas baik di Al-Qur’an maupun Hadist dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Ada yang sedikit perlu digaris bawah disini bahwa penentuan awal bulan secara Hisab pun harus sejalan dengan apa yang telah disabdakan Rasulullah yaitu berdasarkan Hilal.

    Adapun Muhammadiyah menggunakan Wujudul Hilal yaitu posisi hilal bila sudah berada diatas titik ufuk meski secara harfiah (mata telanjang) sangat sulit dilihat – karena rentan waktu bulan berada diatas ufuk yang sangat mepet- namun berdasarkan Wujudul Hilal maka bulan sudah dianggap terlihat.

    Sedangkan NU menggunakan Imkanul Rukyah dimana Rukyatul Hilal didasarkan pada derajat ketinggian hilal ketika matahari terbenam dan usia bulan harus sesuai dengan kaidah yang ditentukan ketika Ijtimak terjadi. Setelah itu hasil daripada Rukyatul Hilal dilaporkan kepada Pemerintah dan Pengurus Besar sebagai pertimbangan penentuan awal bulan hijriyah (biasanya dilakukan dengan sidang Isbat).

    Kesimpulannya, baik Hisab maupun Rukyah adalah dua cara yang digunaka untuk MENGETAHUI KEMUNCULAN HILAL (PENENTUAN AWAL BULAN) sebagaimana yang Rasulullah sabdakan. Bagi saya sendiri, perbedaan semacam ini sudahlah biasa dan sering sudah sering mengalaminya. Namun ada sebuah sikap dimana kita harus MENGHARGAI PERBEDAAN selama itu tidak bertentangan dengan Syariat yang ditetapkan.

    Adapun saya sendiri sebagai bagian dari Masyarakat Indonesia yang patuh, saya lebih condong menunggu hasil sidang isbat dari Pemerintah, namun bila Pemerintah tidak mengindahkan apa-apa yang telah dihasilkan selama proses Rukyatul Hilal maka tidak ada kewajiban bagi saya untuk taat. Sedangkan untuk masalah Ilmu Falakiyah sendiri, kebanyakan mereka yang mengaku bermanhaj salaf justru tidak tau bahkan tidak pernah mau tau, padahal Ilmu Falakiyah sudah diajarkan Al-Qur’an dan disabdakan oleh Sayyidina Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Bahkan saking fanatiknya (fanatik sempit) hingga mereka menganggap waktu imsak sebagai sebuah kebijakan baru dalam Islam, padahal bila kita mau baca kembali tentang Hadist-Hadist mengenai puasa, kita akan menemukan bahwa PUASA DIMULAI SEJAK FAJAR HINGGA MATAHARI TERBENAM. Sedangkan kita mengetahui bahwa Waktu Adzan (yang mereka gunakan sebagai patokan) sudah ditambah 1-2 menit karena ada waktu dimana haram melakukan yaitu PADA SAAT MATAHARI TERBIT DAN TERBENAM sehingga bila mereka tetap berpatokan pada waktu Adzan pastilah mereka kurang berhati-hati dan kurang faham akan hal tersebut, sedangkan berhati-hati dalam beribadah adalah lebih utama maka dari itu ada yang namanya Waktu Imsak.

    Ttd

    Aden Kejawen

    Mantan Penjaga WC

    [Reply]

    nyong sorong Membalas:

    sampeyan ini sepertinya menghargai perbedaan…ujung-ujungnya podo wae tidak bisa menghargai perbedaaan… dasar !

    [Reply]

    Putut as Membalas:

    he…he..he…itulah manusia,…maka biarlah yang berbeda tetap berbeda,…yang penting , Allahnya, Nabinya, Al-qur’anya, Kiblatnya, dan Hajinya tetap sama

    [Reply]

  3. wah… mudah-mudahan kedepannya bisa sama terus yak..

    [Reply]

  4. Rambo Cuti says:

    Seiring bertambahnya usia dunia, memang semakin banyak orang pintar bertebaran di Muka bumi ini. mereka saling mengemukakan pendapat tentang sesuatu hal yang amat penting pengambilan keputusannya. jadi masyarakat yang tidak mengerti jadi bingung yang mana yang akan diikuti. jadi menurut saya kepada Kementrian Agama RI, harus cepat mengambil langkah dalam menangani hal tersbut. supaya tidak bertambah banyak kebingungan lagi. karena di Indonesia ini yang diakui adalah agama islam. bukan Muhammadiyah, dan ntah apapun lagi namanya. yg penting tujuannya 1 yaitu ALlah SWT. kalo ada yang tidak mau mengikuti keputusan Menteri Agama, bagus keluar ajalah dari Indonesia ini. Buat tambah pusing aja kau disini.

    [Reply]

    faiz Membalas:

    pemerintah membuat kalender tgl 30 hari raya idul fitri.sekarang berubah jadi tgl 31. yang bingung pemerintah po orangnya. ngapain bingung. mantep aja lebaran tgl 30. ada dasare kok.maaf lahir batin. met lebaran

    [Reply]

  5. maman rahman says:

    kenapa sih muhamadiyah suka berbeda, usahakan 1 syawal itu sama… malu doong sama agama yang lain………

    [Reply]

    jitonegoro Membalas:

    saya lebih cocok dg Muhammadiyah karena ilmu astronomi udah canggih, penentuan tgl sudah di ukur bersama NU ramadhan berakhir tgl 29 agustus jam 10, artinya ketika maghrib sudah 7 jam lebih dari titik akhir ramadhan, dan ada analisa setelah reformasi lebaran sering beda karena gengsi faham bukan ilmu kebenaran yg di pakai, dari mana Menag nya…………

    [Reply]

    faiz Membalas:

    berbeda dengan dasar yang benar,ngapain harus malu. koruptor itu yang harus malu. kalendere lebaran tgl 30. sekarang berubah jadi tgl 31. la ini yang bikin malu. mantep aja lebaran selasa. maaf lahir batin. met lebaran

    [Reply]

  6. rams says:

    Kalau melihat hasil hisab PP Muhammadiyah (kurang dari 2 derajad), sepertinya lebaran hari ini tidak akan berbarengan. Bagamanapun toko-toko tetap meriah dalam menyambut lebaran kali ini

    [Reply]

  7. squidy says:

    benar sekali gan jika lebaran kali ini tanggalnya sama antara nu dan muhammadiyah

    [Reply]

  8. sumarno says:

    kalau Muslim di daerah dekat dengan kutub bagaimana ya menentukan awal puasa dan 1 syawalnya? Di situ kan posisi bulan sulit di lihat!

    [Reply]

  9. sumarno says:

    kalau muslim yang tinggal di daerah kutub yang posisi bulan sulit dilihat, bagaimana ya menentukan awal puasa dan 1 syawalnya?

    [Reply]

    nyong sorong Membalas:

    mengikut negara terdekat yang kondisi alamnya stabil mas..gitu kata para ulama

    [Reply]

  10. sumarno says:

    Sebaiknya hisab dan rukyat sama-sama kita pelajari, agar kita tahu dasar hukumnya.
    Toh semuanya milik kita bersama.

    [Reply]

    faiz Membalas:

    jaman rosul dulu puasa yang 30 hari jarang sekali. maaf lahir batin. met lebarAN

    [Reply]

  11. sumarno says:

    Yang lebih tepat dan lebih pintar dari segala-galanya, semuanya hanyalah milik Alloh SWT.

    [Reply]

  12. gus muslih says:

    memang kita harus pintar ngitung ngitung…. tapi kita harus lebih pintar ngaji.. subhanalloh..

    [Reply]

    rifai Membalas:

    klo mau buktikan mana yang benar, lihat aja bulan pada malam ke 15 sejak ditetapkannya 1 syawal oleh masing2 pihak,kan bulan dah wujud bulat banget tuh…klo saya sih manut sama pemerintah aja dah, kan kita hidup di indonesia…

    [Reply]

    nyong sorong Membalas:

    ini baru komentaaaar… okey gan akuuur bangets

    [Reply]

  13. gus muslih says:

    pinter ngitung n pinter ngaji baru josss…
    pinter ngitung masih kurang..
    pinter ngaji lumayan..

    [Reply]

  14. Mantan Napi says:

    Artikel yg menarik tapi ada iklan yang diselipkan diantara tulisan akhirnya jadi tidak menarik

    [Reply]

  15. Omar Salim says:

    Muhammadiyah pastikan 1 Syawal jatuh pada tanggal 30 Agustus

    SURABAYA (Arrahmah.com) – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur memastikan awal Syawal 1432 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2011 jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011.

    “Itu hasil musyawarah ahli hisab Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) di Kantor PWM Jatim pada 5 Juli 2011,” kata Sekretaris PWM Jatim H Nadjib Hamid di Surabaya.
    Hadjib Hamid menjelaskan bahwa keputusan tersebut berdasarkan hasil perhitungan menggunakan sistem hisab hakiki yang dilakukan tim dari markas Majelis Tarjih Tanjung Kodok, Lamongan.
    “Hasil hitung Majelis Tarjih PWM menunjukkan bahwa ijtimak akhir Ramadhan 1432 Hijriah akan terjadi pada 29 Agustus 2011 yang bertepatan dengan 29 Ramadhan 1432 H antara 10.04.03 WIB sampai pukul 10.05.16 WIB,” katanya.
    Ia mengungkapkan, pada saat itu, matahari terbenam pada pukul 17.30.53 WIB dan “hilal” (rembulan usia muda sebagai pertanda awal bulan/kalender) akan terlihat pada ketinggian 1 derajat 55 menit 11 detik.
    “Dengan tampaknya hilal ini, kesimpulannya pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 itu sudah merupakan awal Syawal untuk mengakhiri puasa Ramadhan,” katanya.
    Sementara itu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memprediksi awal Syawal 1432 Hijriah kemungkinan tidak akan bersamaan waktunya, karena ketinggian hilal di bawah dua derajat.
    “Kalau awal Ramadhan 1432 Hijriah bisa bersamaan, tapi awal Syawal 1432 H ada kemungkinan tidak bisa bersamaan karena ketinggian hilal di bawah dua derajat,” kata Ketua Lajnah Falakiyah PWNU Jatim Dr H Abd Salam Nawawi MAg, di Surabaya.
    Ia menjelaskan kalender PWNU Jatim mencatat ijtimak untuk awal Syawal 1432 H terjadi pada 29 Agustus 2011 pukul 10.05 WIB dengan tinggi hilal hakiki 1 derajat 57 menit 45,08 detik.
    “Karena tinggi hilal tidak mencapai dua derajat, maka kemungkinan akan terjadi perbedaan lebaran, yakni ada yang ber-Idul Fitri pada 30 Agustus dan ada pula tanggal 31 Agustus,” katanya.
    Namun, meskipun demikian ia mengungkapkan bahwa PWNU Jatim akan tetap melakukan “rukyatul hilal” (melihat hilal secara kasat mata) untuk menentukan awal Syawal, apakah 30 Agustus atau 31 Agustus. Ia juga menyebutkan 11 lokasi strategis untuk rukyatul hilal, diantaranya adalah seperti Ujungpangkah Gresik, Tanjungkodok Lamongan, dan Nambangan Surabaya. (ans/arrahmah.com)

    [Reply]

  16. Omar Salim says:

    Beberapa tahun terakhir, kaum muslimin di Indonesia mengalami perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan. Akibatnya, umat yang awam banyak dibuat bingung. Yang lebih buruk, perbedaan tersebut bisa memicu perpecahan di antara kaum muslimin. Bagaimana sebenarnya tuntunan syariat dalam menentukan awal bulan Hijriyah, lebih khusus Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah?

    Sebelumnya telah dijelaskan bahwa satu-satunya cara yang dibenarkan syariat untuk menentukan awal bulan adalah dengan ru’yah inderawi, yaitu melihat hilal dengan menggunakan mata. Lalu bagaimana dengan adanya perbedaan jarak antara tempat yang satu dengan lainnya, yang berakibat adanya perbedaan tempat dan waktu munculnya hilal?
    Inilah yang kita kenal dengan ikhtilaf mathali’. Lantas apakah masing-masing daerah berpegang dengan mathla’ (tempat waktu muncul)nya sendiri, ataukah jika terlihat hilal di satu daerah maka semuanya harus mengikuti?
    Di sini terjadi perbedaan pendapat. Dua pendapat telah disebutkan dalam pertanyaan di atas. Sedangkan pendapat ketiga menyatakan bahwa yang wajib mengikuti ru’yah tersebut adalah daerah yang satu mathla’ dengannya.
    Dari ketiga pendapat itu, tampaknya yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa jika hilal di satu daerah terlihat maka seluruh dunia harus mengikutinya. Perbedaan mathla’ adalah sesuatu yang jelas ada dan tidak bisa dimungkiri. Namun yang menjadi masalah, apakah perbedaan tersebut berpengaruh dalam hukum atau tidak? Menurut mazhab yang kuat, perbedaan tersebut tidak dianggap.
    Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz t menjelaskan masalah ini ketika ditanya: Apakah manusia harus berpuasa jika mathla’-nya berbeda?
    Beliau menjawab: Yang benar adalah bersandar pada ru’yah dan mengabaikan adanya perbedaan mathla’, karena Nabi n memerintahkan untuk bersandar dengan ru’yah dan tidak merinci pada masalah itu. Nabi n tidak mengisyaratkan kepada perbedaan mathla’ padahal beliau mengetahui hal itu. (Tuhfatul Ikhwan, hlm. 163)
    Dikisahkan ketika seorang Arab Badui melapor kepada Nabi n bahwa ia menyaksikan hilal, maka Nabi n menerimanya, padahal ia berasal dari daerah lain. Nabi n juga tidak minta penjelasan apakah mathla’-nya berbeda atau tidak. (Majmu’ Fatawa, 25/103)
    Hal ini mirip dengan pengamalan ibadah haji zaman dahulu, yang seorang jamaah haji masih terus berpegang dengan berita para jamaah haji yang datang dari luar tentang adanya ru’yah hilal. Juga seandainya kita buat sebuah batas, maka antara seorang yang berada pada akhir batas suatu daerah dengan orang lain yang berada di akhir batas yang lain, keduanya akan memiliki hukum yang berbeda. Yang satu wajib berpuasa dan yang satu lagi tidak. Padahal tidak ada jarak antara keduanya kecuali seukuran anak panah. Yang seperti ini bukan termasuk dari agama Islam. (Majmu’ Fatawa, 25/103—105)
    Karena perbedaan mathla’ diabaikan, maka bila hilal terlihat di suatu daerah berarti daerah-daerah lain wajib mengikuti, selama mereka mendapatkan berita tersebut dari sumber yang bisa dipercaya.
    Dijelaskan oleh asy-Syaikh al-Albani t bahwa ini adalah mazhab jumhur ulama. Beliau berkata, “Banyak ulama ahli tahqiq (peneliti) telah memilih mazhab jumhur ini. Di antara mereka adalah Ibnu Taimiyah t sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (juz 25), asy-Syaukani t dalam Nailul Authar, Shiddiq Hasan Khan t dalam ar-Raudhatun Nadiyyah, dan selain mereka. Itulah yang benar, tiada yang benar selainnya. Ini tidak bertentangan dengan hadits ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas c (yang menjelaskan bahwa ketika penduduk Madinah diberitahu bahwa penduduk Syam melihat hilal lebih dulu dari mereka, Ibnu ‘Abbas z tetap memakai ru’yah penduduk Madinah hingga puasa 30 hari atau hingga melihat hilal, red.) karena beberapa alasan yang telah disebut oleh asy-Syaukani.
    Mungkin alasan yang paling kuat adalah bahwa hadits Ibnu ‘Abbas z datang dalam perkara orang yang berpuasa sesuai dengan ru’yah yang ada di daerahnya, kemudian di tengah-tengah bulan Ramadhan sampai kepada mereka berita bahwa orang-orang di daerah lain telah melihat hilal sehari sebelumnya. Dalam keadaan ini, ia terus melakukan puasa bersama orang-orang di negerinya sampai 30 hari atau mereka melihat hilal sendiri. Dengan pemahaman seperti ini maka hilanglah musykilah (problem) dalam hadits itu. Sedangkan hadits Abu Hurairah z yang berbunyi:
    صُومُوا لِرُأْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُأْيَتِهِ
    “Puasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi, lihat takhrijnya dalam al-Irwa’, no. 902 –red.)
    dan yang lainnya, berlaku sesuai dengan keumumannya. Hadits tersebut mencakup semua orang yang mendapat berita tentang adanya hilal dari negara atau daerah mana saja tanpa ada pembatas jarak sama sekali, sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Fatawa (25/107).
    Pertukaran informasi tentang hilal ini tentu saja bukan hal yang sulit di zaman kita ini. Hanya saja memang dibutuhkan ‘kepedulian’ dari negara-negara Islam sehingga dapat mempersatukan 1 Syawwal, insya Allah l.
    Selama belum bersatunya negara-negara Islam, maka saya berpendapat bahwa masyarakat di setiap negara harus puasa bersama negara (pemerintah) dan tidak memisahkan diri, sehingga sebagian orang berpuasa bersama pemerintah dan sebagian lain bersama yang lainnya, baik mendahului puasa atau lebih akhir. Karena hal ini bisa mempertajam perselisihan dalam masyarakat sebagaimana terjadi pada sebagian negara-negara Arab sejak beberapa tahun lalu. Wallahul musta’an.” (Tamamul Minnah, hlm. 398)

    Bolehkah seseorang atau sekelompok orang menyendiri dari mayoritas masyarakat di negerinya dalam memulai puasa atau mengakhirinya, walaupun berdasarkan ru’yah?
    Untuk menjawab masalah ini, sebelumnya kita mesti mengetahui bahwa ketentuan itu (memulai dan mengakhiri puasa) adalah wewenang pemerintah atau pihak yang diserahi masalah ini. Hal itu sebagaimana dikatakan al-Hasan al-Bashri t dalam masalah pemerintah, “Mereka mengurusi lima urusan kita: shalat Jum’at, shalat jamaah, ‘Ied, perbatasan, dan hukum had. Demi Allah, agama ini tidak akan tegak kecuali dengan mereka, walaupun mereka zalim dan licik. Demi Allah, sungguh apa yang Allah l perbaiki dengan mereka lebih banyak dari apa yang mereka rusak….” (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 7—8)
    Hal yang serupa dinyatakan juga oleh as-Sindi dan al-Albani sebagaimana akan tampak dalam penjelasan berikut. Jadi ini bukan tugas/urusan individu atau kelompok, tapi ini adalah urusan pemerintah. Asy-Syaikh al-Albani t menyebutkan sebuah hadits dalam Silsilah as-Shahihah (1/440):
    الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
    “Puasa adalah hari puasanya kalian, berbuka adalah hari berbukanya kalian, dan ‘Iedul Adha adalah hari kalian menyembelih.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah z, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam ash-Shahihah, no. 224)
    Beliau melanjutkan menerangkan hadits itu, katanya, “At-Tirmidzi t berkata setelah menyebutkan hadits itu, ‘Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini bahwa maknanya adalah berpuasa dan berbuka dilakukan bersama jamaah dan kebanyakan manusia’.”
    Ash-Shan’ani t berkata dalam Subulus Salam (2/72), “Di dalamnya terdapat dalil agar menganggap ketetapan ‘Ied itu bersamaan dengan manusia (masyarakat), dan bahwa yang menyendiri dalam mengetahui hari ‘Ied dengan melihat hilal maka ia wajib menyesuaikan diri dengan manusia. Wajib baginya (mengikuti) hukum mereka dalam hal shalat, berbuka, dan menyembelih (‘Iedul Adha).”
    Ibnul Qayyim t menyebutkan hal yang semakna dengannya dalam kitabnya Tahdzibus Sunan (3/214). Katanya, “Dikatakan bahwa di dalam hadits itu terdapat bantahan atas orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang mengetahui terbitnya bulan dengan hisab boleh puasa sendirian di luar mereka yang belum tahu. Dikatakan pula, sesungguhnya jika satu orang saksi melihat hilal dan hakim belum menerima persaksiannya, maka hari tersebut tidak menjadi hari puasa baginya sebagaimana tidak menjadi hari puasa bagi manusia (yang lain).”
    Abul Hasan as-Sindi t mengatakan dalam catatan kakinya terhadap Sunan Ibnu Majah setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah z riwayat at-Tirmidzi, “Tampaknya, perkara-perkara ini tidak ada celah bagi individu-individu untuk terlibat di dalamnya. Tidak bisa mereka menyendiri dalam masalah tersebut. Bahkan perkara itu diserahkan kepada pemimpin dan jamaah masyarakat. Wajib bagi setiap orang untuk mengikuti pemimpin dan jamaah masyarakat. Atas dasar ini, jika seseorang melihat hilal lalu imam/pimpinan menolak persaksiannya, maka mestinya ia tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sesuatu pun dari perkara ini. Wajib pula baginya untuk mengikuti jamaah masyarakat.”
    Saya (al-Albani) katakan, “Makna inilah yang langsung dipahami dalam hadits. Hal ini didukung oleh perbuatan ‘Aisyah x yang berhujjah dengannya kepada Masruq ketika ia (Masruq) tidak mau puasa Arafah karena khawatir ternyata itu hari nahr (10 Dzulhijjah, yakni hari raya). Maka ‘Aisyah terangkan bahwa pendapatnya itu tidak bisa dianggap dan wajib baginya mengikuti kebanyakan manusia. Lalu ‘Aisyah x berkata,
    النَّحْرُ يَوْمَ يَنْحَرُ النَّاسُ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُ النَّاسُ
    “Hari nahr adalah ketika orang-orang menyembelih dan ‘Iedul Fithri adalah ketika orang-orang berbuka.” (Mushannaf Abdurrazzaq, 4/157)
    Saya katakan (al-Albani), “Inilah yang sesuai dengan syariat yang toleran, yang di antara tujuannya adalah menyatukan manusia dan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari pendapat-pendapat pribadi yang mencerai-beraikan kesatuan mereka. Syariat tidak menganggap pendapat pribadi—walaupun itu benar dari sisi pandangnya—dalam ibadah yang sifatnya berjamaah seperti puasa, ‘Ied, dan shalat berjamaah.
    Tidakkah engkau melihat bahwa para sahabat shalat di belakang yang lain, padahal di antara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, kemaluan, dan keluarnya darah membatalkan wudhu. Di antara mereka juga ada yang tidak berpendapat demikian.
    Di antara mereka ada yang melakukan shalat 4 rakaat dalam safar dan di antaranya juga ada yang 2 rakaat. Namun, perbedaan ini dan yang lain, tidak menghalangi mereka untuk bersama-sama dalam melakukan shalat di belakang satu imam dan menganggap shalat itu sah.
    Hal itu karena mereka mengetahui bahwa perpecahan dalam agama lebih jelek daripada perbedaan dalam sebagian pendapat. Maka hendaknya mereka memerhatikan hadits ini dan riwayat yang disebutkan. Yaitu mereka yang mengaku-aku mengetahui ilmu falak (hisab), yang memulai puasa sendiri dan berbuka sendiri, mendahului atau membelakangi mayoritas muslimin dengan bersandar pada pendapat dan ilmunya tanpa peduli manakala keluar dari jamaah.
    Hendaknya mereka semua memerhatikan ilmu yang kami sebutkan ini. Barangkali mereka akan mendapatkan obat dari kebodohan dan kesombongan yang menimpa mereka, sehingga mereka menjadi satu shaf bersama kaum muslimin, karena sesungguhnya tangan Allah l bersama jamaah.” (Silsilah ash-Shahihah, 1/443—445, lihat pula anjuran beliau yang telah disebut dalam Tamamul Minnah hlm. 398)
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t ditanya:
    Seseorang melihat hilal sendirian dan benar-benar melihatnya, apakah dia boleh berbuka dan berpuasa sendirian atau bersama kebanyakan manusia?
    Beliau menjawab:
    Alhamdulillah. Jika dia melihat hilal untuk berpuasa atau berbuka sendirian, apakah ia berkewajiban untuk berpuasa dengan ru’yah-nya dan berbuka dengan ru’yah sendiri, atau tidak puasa serta berbuka kecuali bersama manusia?
    Dalam hal ini ada tiga pendapat dan tiga riwayat dari al-Imam Ahmad:
    1. Dia wajib berpuasa atau berbuka dengan sembunyi-sembunyi. Ini adalah mazhab asy-Syafi’i t juga.
    2. (Mulai) berpuasa sendiri dan tidak berbuka kecuali bersama manusia. Ini yang masyhur dari pendapat Ahmad, Malik, dan Abu Hanifah rahimahumullah.
    3. Berpuasa dan berbuka juga bersama manusia.
    Yang ketiga adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan sabda Nabi n:
    صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
    “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, berbukanya kalian adalah ketika kalian berbuka, dan hari ‘Iedul Adha-nya kalian adalah tatkala kalian menyembelih.” Riwayat at-Tirmidzi dan beliau katakan hasan gharib. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ia menyebutkan buka dan ‘Iedul Adha saja. (Hadits ini disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Silsilah ash-Shahihah, no. 224)
    At-Tirmidzi t juga meriwayatkan dari Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda, “Puasa adalah pada hari kalian berpuasa, berbuka adalah hari ketika kalian berbuka, dan ‘Iedul Adha adalah hari ketika kalian menyembelih.” (at-Tirmidzi mengatakan bahwa [hadits ini] hasan gharib)
    Beliau juga mengatakan, sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini dengan perkataan, “Sesungguhnya makna hadits ini adalah berpuasa dan berbuka dilakukan bersama jamaah manusia dan kebanyakan manusia.”
    Abu Dawud t meriwayatkan dengan sanad lain dari Abu Hurairah z:
    “Berbukanya kalian adalah hari tatkala kalian berbuka dan Adha-nya kalian adalah hari kalian menyembelih. Seluruh tanah Arafah adalah tempat wuquf, seluruh tanah Mina adalah tempat menyembelih, seluruh gang Makkah adalah tempat menyembelih, dan seluruh tanah jam’ (Muzdalifah) adalah tempat wuquf.” (Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2324)
    Asal permasalahan ini yaitu bahwa Allah l mengaitkan hukum-hukum syar’i seperti hukum puasa, berbuka, dan menyembelih, dengan nama hilal (bulan sabit) dan syahr (bulan). Allah l berfirman:
    ﮮ ﮯ ﮰﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗﯘ
    “Dan mereka bertanya kepadamu tentang hilal-hilal. Katakanlah itu waktu-waktu untuk manusia dan untuk (ibadah) haji.” (al-Baqarah: 189)
    Allah l terangkan bahwa itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan haji. Allah l berfirman:
    ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ
    “Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 183—184)
    Allah l wajibkan puasa bulan Ramadhan dan ini disepakati kaum muslimin. Yang diperselisihkan manusia adalah apakah hilal itu sebutan untuk sesuatu yang muncul di langit walaupun manusia tidak mengetahuinya, yang dengan itu berarti telah masuk bulan (baru), ataukah hilal itu merupakan sebutan untuk sesuatu yang manusia mengeraskan suaranya (maksudnya mengumumkannya sehingga diketahui oleh banyak orang), dan makna syahr adalah yang tersohor/terkenal di antara manusia. Dalam masalah ini ada dua pendapat:
    Orang yang berpendapat dengan pendapat pertama mengatakan bahwa barang siapa melihat hilal sendirian, berarti dia telah masuk waktu puasa dan bulan Ramadhan telah berlaku atas dirinya. Malam itu termasuk malam Ramadhan walaupun yang lainnya belum mengetahui. Orang yang tidak melihatnya dan kemudian mengetahui bahwa ternyata hilal sudah muncul, berarti ia harus mengqadha puasa. Begitu pula—menurut qiyas—pada bulan berbuka (Syawwal) dan pada bulan menyembelih (‘Iedul Adha). Namun pada bulan penyembelihan, saya (Ibnu Taimiyah) tidak mengetahui ada yang mengatakan bahwa barang siapa melihat hilal (lebih dahulu) berarti melakukan wuquf sendirian tidak bersama jamaah haji yang lain, lalu hari setelahnya menyembelih, melempar jumrah ‘aqabah dan ber-tahallul, tidak bersama jamaah haji yang lain.
    Namun mereka berbeda pendapat dalam masalah berbuka. Kebanyakan ulama menyamakannya dengan (masalah) menyembelih dan mengatakan tidak boleh berbuka kecuali bersama kaum muslimin yang lain. Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa memulai berbuka sama dengan memulai puasa. Bersilangnya pendapat-pendapat ini menunjukkan bahwa yang benar adalah berbuka itu seperti masalah menyembelih pada bulan Dzulhijjah (maksudnya tidak boleh menyendiri).
    Atas dasar itu, maka syarat hilal dan syahr adalah masyhurnya (diketahui secara umum) di antara manusia dan pengumuman manusia tentangnya. Sehingga walaupun yang melihatnya sepuluh orang tapi tidak dikenal di antara manusia di daerah itu, karena persaksian mereka ditolak, atau karena mereka tidak mempersaksikan, maka hukum mereka seperti hukum seluruh muslimin (yang lain). Sehingga mereka tidak wuquf, tidak menyembelih qurban, dan tidak shalat ‘Ied kecuali bersama muslimin. Demikian juga tidak berpuasa kecuali bersama muslimin. Inilah makna ucapan Nabi n:
    صَوْمُكمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
    “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, bukanya kalian adalah ketika kalian berbuka, dan hari ‘Iedul Adha-nya kalian adalah hari tatkala kalian menyembelih.”
    Oleh karena itu, al-Imam Ahmad t mengatakan dalam riwayatnya, “Berpuasa bersama imam (pemerintah) dan jamaah muslimin, baik dalam keadaan udara cerah maupun mendung.” Beliau juga mengatakan, “Tangan Allah l bersama al-Jamaah.”
    Atas dasar ini, muncullah perbedaan hukum awal bulan: Apakah itu berarti (awal) bulan bagi penduduk negeri seluruhnya atau bukan. Allah l menerangkan yang demikian itu dalam firman-Nya:
    ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩﮪ
    “Maka barang siapa yang menyaksikan bulan hendaknya ia berpuasa padanya.” (al-Baqarah: 185)
    Allah l hanyalah memerintahkan untuk berpuasa bagi yang menyaksikan bulan (waktu/syahr). Menyaksikan itu tidak bisa dilakukan kecuali pada bulan yang telah diketahui umum (sebagaimana keterangan makna syahr yang telah lalu) di antara manusia, sehingga bisa tergambarkan bagaimana menyaksikannya atau bagaimana tidak menyaksikannya.
    Sabda Nabi n, “Jika kalian melihatnya maka puasalah padanya dan jika kalian melihatnya maka berbukalah padanya, serta puasalah dari rembulan kepada rembulan.”
    Yang semacam itu adalah pembicaraan yang ditujukan kepada jamaah manusia. Namun siapa saja yang berada di suatu tempat yang tidak ada orang selain dirinya, jika dia melihat hilal maka hendaknya ia berpuasa, karena di sana tidak ada orang selainnya. Atas dasar ini, seandainya ia tidak berpuasa lalu ia mengetahui dengan jelas bahwa hilal dilihat di tempat lain atau diketahui di pertengahan siang, maka ia tidak wajib mengqadhanya. Ini adalah salah satu dari dua riwayat dari al-Imam Ahmad t.
    (Alasannya), karena awal bulan baru dianggap masuk pada mereka sejak tersebar (bila belum tersebar maka artinya belum masuk, red.). Saat itu wajib baginya menahan diri (dari segala yang membatalkan puasa) seperti pada kejadian ‘Asyura yang diperintahkan puasa di tengah hari dan tidak diperintah untuk mengqadhanya menurut mazhab yang sahih. Hadits mengenai qadha dalam hal ini adalah hadits yang lemah. Wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa, 25/114—118)

    Bagaimana jika penguasa menolak persaksian sekelompok orang dalam melihat hilal tanpa alasan yang syar’i, karena alasan politis atau yang lain. Apakah kita mengikutinya atau mengikuti ru’yah hilal walaupun tidak diakui pemerintah?
    Ibnu Taimiyah t menjawab dalam Majmu’ Fatawa (25/202—208). Ketika beliau ditanya tentang penduduk suatu kota yang melihat hilal Dzulhijjah, akan tetapi tidak dianggap oleh penguasa negeri itu, apakah boleh mereka berpuasa yang tampaknya tanggal 9 padahal hakikatnya adalah tanggal 10?
    Beliau menjawab: Ya, mereka berpuasa pada tanggal 9 (yakni hari Arafah) yang tampak dan yang diketahui jamaah manusia, walaupun pada hakikatnya tanggal 10 (yakni ‘Iedul Adha) meski seandainya ru’yah itu benar-benar ada. Berdasarkan dalam kitab-kitab Sunan dari sahabat Abu Hurairah z dari Nabi n bahwasanya beliau berkata,
    صَوْمُكمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
    “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, bukanya kalian adalah ketika kalian berbuka, dan hari ‘Iedul Adha-nya kalian adalah hari tatkala kalian menyembelih.” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan beliau mensahihkannya)
    Dari ‘Aisyah x ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda, “Berbuka adalah ketika manusia berbuka dan Iedul Adha adalah ketika manusia menyembelih.” (HR. at-Tirmidzi, dan beliau katakan bahwa ini yang diamalkan menurut para imam kaum muslimin seluruhnya)
    Seandainya manusia melakukan wuquf di Arafah pada tanggal 10 karena salah (menentukan waktu) maka wuquf itu cukup (sah), menurut kesepakatan para ulama, dan hari itu dianggap hari Arafah bagi mereka. Bila mereka wuquf pada hari kedelapan karena salah menentukan bulan, maka dalam masalah sahnya wuquf ini ada perbedaan. Yang tampak, wuqufnya juga sah, dan ini adalah salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Malik dan Ahmad serta yang lainnya.
    ‘Aisyah x berkata:
    إِنَّمَا عَرَفَةُ الْيَوْمُ الَّذِيْ يَعْرِفُهُ النَّاسُ
    “Sesungguhnya hari Arafah adalah hari yang diketahui manusia.”
    Asal permasalahan ini adalah bahwasanya Allah l menggantungkan hukum dengan hilal dan syahr (bulan, sebutan waktu). Allah l berfirman:
    ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ
    “Mereka bertanya tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji’. Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (al-Baqarah: 189)
    Hilal adalah sebutan untuk sesuatu yang diumumkan dan dikeraskan suara dalam hal ini. Maka jika hilal muncul di langit dan manusia tidak mengetahui atau tidak mengumumkannya maka tidak disebut hilal. Demikian pula sebutan syahr, diambil dari kata syuhrah (kemasyhuran). Bila tidak masyhur di antara manusia maka berarti bulan belum masuk.
    Banyak manusia keliru dalam masalah ini karena sangkaan mereka bahwa jika telah muncul hilal di langit maka malam itu adalah awal bulan, baik ini tampak dan masyhur di kalangan manusia, diumumkan maupun tidak. Padahal tidak seperti itu. Bahkan terlihatnya hilal oleh manusia serta diumumkannya adalah perkara yang harus. Oleh karena itu Nabi n bersabda, “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, bukanya kalian adalah ketika kalian berbuka, dan hari ‘Iedul Adha kalian adalah hari tatkala kalian menyembelih.”
    Maksudnya, yaitu hari yang kalian tahu bahwa itu waktu puasa, berbuka, dan ‘Iedul Adha. Berarti jika tidak kalian ketahui, maka tidak berakibat adanya hukum. Berpuasa pada hari yang diragukan, baik itu tanggal 9 atau 10 Dzulhijjah itu diperbolehkan tanpa ada pertentangan di antara ulama. Karena pada asalnya tanggal 10 itu belum ada sebagaimana jika mereka ragu pada tanggal 30 Ramadhan, apakah telah terbit hilal ataukah belum?
    (Dalam keadaan semacam ini) mereka (tetap) berpuasa pada hari yang mereka ragukan, menurut kesepakatan para imam. Hari syak (yang diragukan) yang diriwayatkan bahwa dibenci puasa pada hari tersebut adalah awal Ramadhan, karena pada asalnya adalah Sya’ban1.
    Yang membuat rancu dalam masalah ini adalah dua masalah:
    Pertama, jika seseorang melihat hilal Syawwal sendirian atau dia dikabari oleh sekelompok manusia yang ia ketahui kejujuran mereka, apakah dia berbuka atau tidak?
    Kedua, kalau dia melihat hilal Dzulhijjah atau dikabari sekelompok orang yang ia ketahui kejujurannya apakah ini berarti hari Arafah—baginya—serta hari nahr adalah tanggal 9 dan 10 sesuai dengan ru’yah ini—yang tidak diketahui manusia (secara umum)—, ataukah hari Arafah dan nahr adalah tanggal 9 dan 10 yang diketahui manusia (secara umum)?
    (Jawaban) masalah pertama, orang yang sendirian melihat hilal tetap tidak boleh berbuka dengan terang-terangan menurut kesepakatan ulama. Kecuali jika ia punya udzur yang membolehkan berbuka seperti sakit atau safar. Kemudian, apakah dengan ia (yang melihat hilal) boleh berbuka dengan sembunyi-sembunyi? Ada dua pendapat di antara ulama, yang paling benar adalah yang tidak berbuka (walaupun) sembunyi-sembunyi. Ini adalah yang masyhur dari mazhab al-Imam Malik dan Ahmad.
    Ada riwayat lain pada mazhab mereka berdua untuk berbuka secara sembunyi-sembunyi, seperti yang masyhur dari mazhab Abu Hanifah dan asy-Syafi’i.
    Telah diriwayatkan bahwa dua orang pada zaman ‘Umar z melihat hilal Syawwal. Salah satunya berbuka dan yang lain tidak. Tatkala berita yang demikian sampai kepada ‘Umar, ia berkata kepada yang berbuka, “Kalau bukan karena temanmu, maka aku akan menyakitimu dengan pukulan.”2
    Hal itu karena yang namanya berbuka adalah hari di mana manusia berbuka yaitu hari ‘Ied (hari raya), sedangkan hari di mana orang tersebut—yang melihat hilal sendiri—berpuasa bukanlah merupakan hari raya yang Nabi n melarang manusia untuk berpuasa. Karena sesungguhnya beliau n melarang puasa pada hari ‘Iedul Fithri dan hari nahr (dengan sabdanya) (qurban), ”Adapun salah satunya adalah hari berbukanya kalian dari puasa. Yang lain adalah hari makannya kalian dari hasil sembelihan kalian.” Maka yang beliau larang untuk berpuasa adalah hari yang kaum muslimin tidak berpuasa, hari yang mereka melakukan penyembelihan. Ini akan jelas dengan masalah yang kedua. (Ini juga pendapat asy-Syaikh Ibnu Baz, lihat Fatawa Ramadhan, 1/65 dan al-Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 398)
    Adapun (jawaban) masalah kedua, jika seseorang melihat hilal Dzulhijjah maka dia tidak boleh melakukan wuquf sebelum hari yang tampak bagi manusia yang lain adalah tanggal 8 Dzulhijjah, walaupun berdasarkan ru’yah adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini karena kesendirian seseorang dalam hal wuquf dan menyembelih mengandung penyelisihan terhadap manusia. Ini seperti yang ada pada saat seseorang menampakkan buka puasanya (sendirian).
    Boleh jadi seseorang akan mengatakan bahwa imam (penguasa) yang menetapkan masalah hilal dengan menyepelekan masalah ini karena dia menolak persaksian orang-orang yang adil. Mungkin karena meremehkannya dalam masalah menyelidiki keadilan para saksi, menolak lantaran ada permusuhan antara dia dan para saksi, atau selainnya dari sebab-sebab yang tidak syar’i, atau karena imam berpijak pada pendapat ahli bintang yang mengaku bahwa dia melihatnya.
    Maka jawabannya adalah bahwa sesuatu yang telah tetap hukumnya, keadaannya tidak berbeda antara yang diikuti dalam hal penglihatan hilal, baik dia itu mujtahid yang benar dalam ijtihadnya, salah, maupun menyepelekan. Yang penting bahwa jika hilal tidak tampak dan tidak terkenal yang manusia mencari-carinya (maka awal bulan belum tetap)—padahal telah terdapat dalam kitab ash-Shahih bahwa Nabi n bersabda dalam masalah para imam:
    يُصَلُّوْنَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ
    “Mereka itu shalat untuk kalian, jika mereka benar maka itu untuk kalian dan untuk mereka, namun jika mereka salah maka untuk kalian pahalanya dan kesalahannya ditanggung mereka.” (Sahih, HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah z)
    Maka kesalahan dan peremehannya ditanggung imam, tidak ditanggung muslimin yang tidak melakukan peremehan dan tidak salah.
    Wallahu a’lam.

    [Reply]

    nyong sorong Membalas:

    pendapat para ulama itu insha Allah oke bahwa kita ngikut penguasa…numpang nanya gan… aapa sama penguasa sekarang dengan penguasa di zaman para ulama tersebut hidup ? kalau di amerika atau eropa gimana tuh penguasanya… sakitu wae gan..

    [Reply]

  17. Abu Fawwaz says:

    Insyaa Alloh ngikut Ahlush Sunah Wal Jamaah, pehamaman dari salafus sholeh.

    [Reply]

    aR_eRos Membalas:

    insyaAlloh

    [Reply]

    MUMTAZ NAJIH Membalas:

    Kulo manut kyai kulo mawon…..Dawuhe mekaten..”Nek malem songolikur kok ora weruh hilal, Sempurnak no posomu dadi telongpuluh dino !!!”. Monggo sederek engkang penting yakin pada keyakinan masing-masing. Hidup rukun bebarengan.

    [Reply]

  18. Kawula Ngangsu Kawruh says:

    Mengapa yang dipermasalahkan justru mereka yang sudah punya dasar kuat. Kalau semua sudah punya dasar masing dan sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits ya sudah tak usah diperdebatkan lagi. Kalau menyalahkan salah satunya ya berarti bisa menyalahkan dasar hukum yang dianut alias bisa menyalahkan Al Qur’an dan Hadits itu sendiri atau bahkan mempertentangkannya.

    Mari kita melihat kepada umat Islam sendiri yang katanya Islam tapi kok masih banyak yang tidak sholat, puasa, zakat dan haji. Seharusnya itu yang diperbincangkan bagaimana agar mereka mau melaksanakan Islam secara kaffah bukan hanya sekedar Islam di KTP saja.

    Mari kita mengoreksi diri sendiri dulu sebelum mengoreksi orang lain. Toh, ulama empat madzab juga tidak pernah memperselisihkan yang seperti ini dan tidak merasa bahwa pendapatnya yang paling benar karena kebenaran mutlak hanyalah Allah SWT.

    [Reply]

    cablaka Membalas:

    se7 kang “kawula ngangsu kawruh”.niku sing kedah dados garapan poro ulama ingkang ahli ngelmu..kula nggih saweg ngangsu niki..mudah2 an angsal ingkang leres alias mboten lepat.nek wonten lepatipun nyuwun ngapurane ingkang ihlas.

    [Reply]

  19. abu sarah says:

    barokallahufiikum.

    [Reply]

  20. fatma syifa says:

    yaa dilihat-lihat sjja nanti..

    [Reply]

  21. Kalau saya ngikut muhammadiyah saja, alasanya: islam adalah agama sepanjang masa. Kalau menurut saya: kata “melihat” hrus dimaknai scr luas.Tdk hanya scr harafiah saja.Zaman sudah menuntut kita untuk menerapkan ‘n memakai ilmu ‘n teknologi.Kalau di hitung bisa ngapain harus repot2 nyari tempat u/ melihat hilal? Sama saja mungkin menafsirkan terma “mengeraskan” suara azan,mengeraskan scr dasar, bisa jadi kita harus menaiki tower mesjid u/ mengumandakanya supaya keras ‘n lantang.Ga boleh pake TOA ‘n amplifier.Itu pendapat saya.. Tp,, semua kembali pd pribadi pengikutnya.

    [Reply]

  22. Kalau menurut saya,saya lebih setuju hisab muhammadiyah.Alasanya,Islam adalah agama sepanjang masa,hukum dan syari’atnya akan terus bisa dipakai dimana zaman ia berada,tanpa cacat/ketakselarasan pd zaman tersebut.Menurut saya,terma “melihat” hrus di tafsirkan lebih dalam.Menurut saya,kalau dihitung saja bisa ngapain harus repot2 nyari tempat u/ lihat hilal.Seiring perjalanan zaman,kita sudah dituntut menerapkan dan memakai ilmu pengetahuan dan teknologi dimanapun tempat dan fungsinya.Seperti halnya terma “mengeraskan” azan,haruskah kita naik menara masjid u/ mengumandangkan azan supaya keras dan lantang terdengar? Tentunya tidak,sambil duduk juga skrg bs membangunkan orang berkilo2 meter dari jarak kita dengan bantuan iptek berupa TOA dan amplifier.Intinya,islam akan bangkit dari keterpurukan (seperti yg sudah disabdakan) salah satunya dengan ilmu dan pengetahuan.Nah,kalau bukan kita yg berusa berubah dan menentukan kemajuan islam,siapa lagi hayo.. Masa musuh membombardir kita pake teknologi mereka kita cuma membalas pake batu.. Mari bangkit saudara2ku !!

    [Reply]

  23. Kalau menurut saya,saya lebih setuju hisab muhammadiyah.Alasanya,Islam adalah agama sepanjang masa,hukum dan syari’atnya akan terus bisa dipakai dimana zaman ia berada,tanpa cacat/ketakselarasan pd zaman tersebut.Menurut saya,terma “melihat” hrus di tafsirkan lebih dalam.Menurut saya,kalau dihitung saja bisa ngapain harus repot2 nyari tempat u/ lihat hilal.Seiring perjalanan zaman,kita sudah dituntut menerapkan dan memakai ilmu pengetahuan dan teknologi dimanapun tempat dan fungsinya.Seperti halnya terma “mengeraskan” azan,haruskah kita naik menara masjid u/ mengumandangkan azan supaya keras dan lantang terdengar? Tentunya tidak,sambil duduk juga skrg bs membangunkan orang berkilo2 meter dari jarak kita dengan bantuan iptek berupa TOA dan amplifier.Intinya,islam akan bangkit dari keterpurukan (seperti yg sudah disabdakan) salah satunya dengan ilmu dan pengetahuan.Nah,kalau bukan kita yg berusa berubah dan menentukan kemajuan islam,siapa lagi hayo.. Masa musuh membombardir kita pake teknologi mereka kita cuma membalas pake batu.. Mari bangkit saudara2ku !!!

    [Reply]

  24. faiz says:

    tidak perlu berselisih. mantapdanyakin selasa aja. maaf lahirbatin

    [Reply]

  25. cak_ti says:

    Kalau menurut saya, Sejatinya Allah SWT itu tidak peduli apakah 1 Syawal tgl 30 atau tgl 31 atau tanggal lainnya, karena semuanya sudah ada ketetapannya. Silahkan manusia dengan segala ilmu dan ketentuan yg ada, diberi kebebasan penuh untuk menentukan pilihannya.

    Tapi.., perlu kita sadari, konsekwensi pilihan dari memilih “bersatu =menentukan 1 Syawal bersama” atau memilih “berbeda=menentukan 1 syawal berbeda-beda”
    Suatu “Nas” atau ketentuan Allah SWT yang sudah pasti dan tidak bisa dilawan adalah, apabila “persatuan” yang dilipih, maka karunia/hidayah Allah akan diturunkan, yaitu berupa: kedamaian, kebahagiaan, kegembiraan, dst, dst. Sedangkan apabila “perbedaan” yang dipilih, maka laknat/azab Allah SWT akan menimpa manusia, yaitu berupa: kegelisahan, ketidakharmonisan, merasa lebih baik daripada yg lain, dst, dst.

    Nah.. ternyata, kita (di Indonesia) memilih untuk “berbeda”, karena ego kita masing-masing. Makanya, siap-siaplah kita menerima azab Allah SWT tsb, minimal yg merayakan 1 syawal tgl 30 merasa koq enggak enak tidak sama merayakan dengan saudara muslim lainnya, dan bagi yg merayakan tgl 31, ada perasaan paling benar, dst, dst.
    Belum lagi, kalau umat agama lain melihatnya..?!

    Yang jadi pertanyaan…, mau-maunya kita memilih bukan hidayah tapi malah azab yang dipilih..! Alangkan bodohnya kita ya…!
    Itu mungkin, yang membedakan kita dengan negara lain, spt Arab Saudi atau negara islam lainnya, dimana mereka bisa menentukan satu keputusan demi persatuan bersama.

    Demikian, mohon maaf apabila ada salah, wassalam.

    [Reply]

  26. cak_ti says:

    Kalau menurut saya, Sejatinya Allah SWT itu tidak peduli apakah 1 Syawal tgl 30 atau tgl 31 atau tanggal lainnya, karena semuanya sudah ada ketetapannya. Silahkan manusia dengan segala ilmu dan ketentuan yg ada, diberi kebebasan penuh untuk menentukan pilihannya.

    Tapi.., perlu kita sadari, konsekwensi pilihan dari memilih \”bersatu =menentukan 1 Syawal bersama\” atau memilih \”berbeda=menentukan 1 syawal berbeda-beda\” Suatu \”Nas\” atau ketentuan Allah SWT yang sudah pasti dan tidak bisa dilawan adalah, apabila \”persatuan\” yang dilipih, maka karunia/hidayah Allah akan diturunkan, yaitu berupa: kedamaian, kebahagiaan, kegembiraan, dst, dst. Sedangkan apabila \”perbedaan\” yang dipilih, maka laknat/azab Allah SWT akan menimpa manusia, yaitu berupa: kegelisahan, ketidakharmonisan, merasa lebih baik daripada yg lain, dst, dst.

    Nah.. ternyata, kita (di Indonesia) memilih untuk \”berbeda\”, karena ego kita masing-masing. Makanya, siap-siaplah kita menerima azab Allah SWT tsb, minimal yg merayakan 1 syawal tgl 30 merasa koq enggak enak tidak sama merayakan dengan saudara muslim lainnya, dan bagi yg merayakan tgl 31, ada perasaan paling benar, dst, dst. Belum lagi, kalau umat agama lain melihatnya..?!

    Yang jadi pertanyaan…, mau-maunya kita memilih bukan hidayah tapi malah azab yang dipilih..! Alangkan bodohnya kita ya…!
    Itu mungkin, yang membedakan kita dengan negara lain, spt Arab Saudi atau negara islam lainnya, dimana mereka bisa menentukan satu keputusan demi persatuan bersama.

    Demikian, mohon maaf apabila ada salah, wassalam.

    [Reply]

  27. rojas says:

    saatmya kita untuk mensikapi berbagai perbedaan yang ada,,pembelajaran juga buat kita agar dapat menjadi umat yang baik,,

    [Reply]

  28. yonobae says:

    jangan jadikan perbedaan itu sebagai penyebab perpecahan dikalangan umat,,

    [Reply]

  29. Noy says:

    bersyukurlah,,bahwa kita masih dapat diberi umur dan kesempatan dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun ini,,,

    [Reply]

  30. masruhen says:

    Assalamualaikum wr wb.Saudaraku2 kaum muslimin.NU dan Muhammadiyah jelas berbeda.Masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda.Yang berbeda akan tetap berbeda. Tidak bijak klo mau mencoba menyatukan, karena keyakinan tak boleh dipaksakan.Yang penting kampanye \”TOLERANSI\”.Berbeda-beda, yang akan sampai ke tujuan adalah yang Ikhlas, murni, karena ridho Alloh. Itu aja. Siapa dia?masing-masing orang akan menjawab dirinya sendiri, tidak usah menuduh/menunjuk.Wassalamualaikum wr wb.

    [Reply]

  31. george says:

    janganlah perbedaan ini di jadikan maslah yg penting kedamaian dalam beribadah

    [Reply]

  32. georgejack says:

    yang penting puasanya afdol , met idulfitri

    [Reply]

 

Leave a Reply to this Post

Al Quran Pen 300x250
Categories
Join Now
Stats
DMCA.com
Google Pagerank Powered by MyPagerank.NetPersonal